Slide 1
Artikel

ASI-KU CUKUP UNTUK ANAKKU

Senin, 28 April 2014    

Menyusui merupakan kemampuan spesial yang dianugerahkan Allah swt. kepada seorang wanita. Namun tidak semua wanita memanfaatkan anugerah Allah yang luar biasa ini. Banyak alasan yang dikemukakan, beberapa diantaranya adalah ASI tidak keluar, anak tidak mau menyusu, payudara kecil, anak menangis terus, atau alasan yang lain adalah karena takut payudara turun atau kendor, ibu tidak bisa tampil modis dan keren jika menyusui di luar rumah, repot karena anak harus ikut kemana ibu pergi, dll. Apapun alasannya akhirnya berujung pada tidak diberikannya ASI kepada anak.
Pemberian ASI sering hanya dianggap sebagai hak anak dan kewajiban ibu, sehingga jika hal ini tampaknya memberatkan ibu maka ibu tetap akan berusaha memberikan yang terbaik kepada anaknya dengan memberikan susu formula “terbaik”. Tapi tahukah ibu, bahwa tidak ada makanan terbaik selain ASI bagi anak yang sehat dan normal tanpa indikasi medis tertentu?
Mengapa Allah menganugerahkan kemampuan spesial ini khususnya kepada ibu-ibu yang melahirkan anak? Bukannya ini pertanda penjaminan supaya bayi tetap mendapatkan makanan terbaik seperti saat dia di dalam kandungan? Bahkan ASI “dititipkan” Allah kepada seorang ibu agar saat bayi lahir bisa langsung diberikan kepada bayi. Tahukah ibu, bahwa komposisi dan volume ASI berubah-ubah sesuai umur bayi? Saat bayi baru lahir, komposisi ASI lebih banyak kandungan zat untuk kekebalan tubuh bayi (disebut sebagai kolostrum). Mengapa demikian? Karena bayi baru lahir kekebalan tubuhnya belum terbentuk sempurna, sehingga “makanan dari Allah” sudah menyediakan penangkisnya yang disebut dengan zat immunoglobulin. Dan tahukah ibu, bahwa saat bayi menghisap ASI, yang keluar terlebih dahulu adalah berupa cairan benig. Subhanallah, karena saat kita sebelum makan, pasti ingin hilang rasa haus terlebih dahulu. Barulah jika ASI dihisap terus selanjutnya akan keluar komponen zat gizi lain yang memenuhi rasa “lapar” berupa lemak, protein, dll. Sehingga jika seorang bayi hanya menyusu sebentar saja, yang didapatkan barulah air saja dan belum saripatinya yang akan menghilangkan rasa laparnya. Inilah yang sering membuat bayi masih sering rewel.
Alasan paling sering yang diungkapkan oleh para ibu adalah ASI tidak cukup. Perlu diketahui bahwa saat ibu melahirkan, tidak otomatis bahwa ASI akan keluar. Keluarnya ASI dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya adalah sucking reflex (refleks hisapan). Artinya bahwa ASI akan keluar jika ada rangsangan dari hisapan bayi. Jadi sebelum 1 jam setelah kelahiran bahkan saat bayi belum dimandikan, untuk merangsang ASI keluar harus segera dilakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Saat IMD dilakukan belum tentu ASI sudah keluar, tapi ibu jangan khawatir. Walaupun belum keluar namun ini merupakan salah satu tahap paling penting yang menentukan keberhasilan menyusui. Jika IMD ini terlewatkan, lalu kemudian bayi diberi susu formula (tanpa indikasi medis yang kuat), maka bayi akan kenyang. Saat diberikan pada ibu bayi sudah tidak mau menyusu sehingga tidak ada rangsangan hisapan untuk produksi ASI. Di lain pihak pemberian susu formula dengan dot akan membuat bayi malas untuk menghisap puting susu ibu (bingung puting). Mengapa? Karena bentuk dot memyebabkan tanpa dihisap pun air susu akan keluar, sehingga bayi tidak perlu bersusah payah. Sedangkan untuk mengeluarkan ASI, bayi harus menghisap dengan kuat. Inilah kemudian yang dipahami ibu sebagai bayi tidak mau menyusu  dan bahkan jika hal ini berlangsung terus maka ASI menjadi semakin tidak keluar.
ASI tidak cukup yang dirasakan oleh ibu karena bayi terus menangis adalah disebabkan juga oleh pelekatan yang tidak tepat. Pelekatan ini artinya bahwa posisi bayi saat menyusu tidak tepat. Posisi yang seharusnya adalah mulut bayi menutupi sebagian besar bagian hitam dari payudara (disebut areola) dan bukan hanya bagian puting saja dimana seharusnya kalaupun ada bagian areola yang tidak masuk mulut bayi maka areola yang tampak dibagian bawah. Areola inilah tempat berkumpulnya ASI dan dibagian puting susu ibu. Untuk mendapatkan posisi ini, mulut bayi  harus terbuka lebar, posisi kepala, dada dan perut bayi harus menghadap ke ibu. Dalam posisi yang nyaman inilah kemudian bayi bisa menyusu dengan maksimal.
Dan yang terpenting bahwa ASI yang tidak cukup adalah berasal dari pikiran ibu sendiri dan bukan karena ukuran payudara. Karena produksi ASI sangat dipengaruhi oleh hormon. Jika ibu berpikir bahwa ASI cukup, insyaallah ASI kita memang cukup. Menyusui, apalagi secara esklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia anak 2 tahun memang membutuhkan motivasi dan usaha yang luar biasa. Namun hasilnya sangat sebanding dengan pengorbanan yang ibu berikan. Bukan hanya mendapat kan anak yang sehat dan cerdas, ibu juga segera pulih kondisinya, berat badan cepat kembali, sebagai sarana KB alami, dan lain-lain, namun kenikmatan tidak terkira adalah kenikmatan tersalurnya kasih sayang ibu kepada anak dan sebaliknya dengan sangat dekat seperti saat di dalam kandungan. Subhanallah.
 
Sumber : Majalah Al Falah Malang, edisi Februari 2014


Komentar Anda

Artikel Lainnya