Slide 1
Artikel

BAHAGIA DENGAN AQIDAH YANG BENAR

Jumat, 4 April 2014    


Inti dari sebuah agama adalah aqidah. Itulah yang membedakan orang Islam dengan lainnya. Salah beraqidah, bisa menjerumuskan kita kepada syirik, atau menyekutukan Allah, yang tentu saja tidak ringan akibatnya. Konsekuensinya? Adalah kemurkaan dari Sang mahapengatur segalanya. Keberkahan-demi keberkahan akan dicabut, kesulitan dan kegelisahan akan menyertainya, naudzubillah mindzaalik.
KH. Abdul Wachid Ghozali, pengasuh Pondok Pesantren As Salam, Singosari malang mengatakan bahwa inti dari kita beragama adalah beraqidah. Aqidah itu ikatan yang tidak bisa lepas. Seperti karung yang ada isinya, lalu karung itu diikat dengan sangat kuat, dan isi karungnya tidak akan keluar. Ikatan itu adalah Laa ilaa ha illallah. ”Ini yang menjadi perbedaan antara umat Islam, Yahudi, Nasrani dan lainnya,” katanya. Laa ilah, yang artinya tidak ada sesuatupun yang bisa disembah, kecuali Allah. Kalimat ini menafikkan kekuatan selain Allah, kullu ma’bud atau setiap yang disembah. Inilah yang memberikan indikasi kita ini muslim, atau tidak.
Suatu saat, ceritanya, ada orang Islam yang berkawan dengan seorang Nasrani. Seorang Nasrani itu bertanya kepada kawannya yang seorang Muslim, “Mengapa kamu tidak mengucapkan selamat natal kepadaku? Padahal teman-teman Muslim yang lain emngucapkan itu.” “Ucapan itu menggangu aqidah saya,” kata si Muslim itu. “Lah, kan hanya ucapan?” protes kawan Nasrani tadi. Lalu orang Muslim tadi bertanya, “mau tidak kamu mengucapkan Laa ilaa ha illallah, Tiada Tuhan selain Allah?” “kalau itu ya jangan, itu akan menggangu iman saya,” ujar orang Nasrani itu. “Lho itu kan hanya ucapan?” kata orang Islam itu. Setelah itu, baru orang Nasrani itu memahami mengapa orang Islam tidak boleh mengucapkan selamat natal.
ilah atau Tuhan itu bisa berbentuk apa saja, bisa batu, akik, keris, patung, dan yang lain-lainnya,” kata pria yang pernah kuliah di Jami’ah Rewind lahore, Pakistan ini. Ilah ini maknanya sesuatu yang diyakini mempunyai kekuatan menyembuhkan, menyehatkan, memberi selamat, menghidupkan, menenangkan, dan lain-lain. “ Jadi jika kita merasa dengan menggunakan cincin akik, membuat kita terhindar dari bahaya, maka seketika itu, cincin akik yang kita pakai merupakan ilah atau Tuhan,” tegasnya. “ Jika kita masih meyakini beberapa benda itu mempunyai kekuatan, seketika itu, kita wajib memperbaiki dan memurnikan aqidah kita,” kata pria berbadan subur ini.

Yang Samar-samar Lebih berbahaya
Pengerusakan aqidah beragam caranya. Menurutnya, setan akan menggoda umat Islam dengan beragam cara, kadang dengan cara langsung, seringkali godaan itu dibungkus dengan sesuatu yang seolah benar, terlebih mengenai kesyirikan. “Umat Islam insyaallah tidak mudah untuk menggadaikan agamanya dan berpindah ke agama yang lain, tapi dengan cara samar, akan bisa terkecoh,” kata pria kelahiran 1970 ini. Namun, jika cara pengerusakan aqidahnya bercampur bisa lebih berbahaya. Seolah-olah merupakan bagian dari agama Islam. Misalnya, ada benda yang bertuliskan huruf arab, kadangkala ada tulisan ayat Al Qurannya. Karenanya diyakini mempunyai kekuatan untuk menjadikan lebih selamat atau yang lainnya. “Itu gak bener namanya,” tegasnya.
Sejarah manakib atau biografi Abdul Qodir Jaelani yang sangat terkenal dalam kitab-kitabnya yang pernah menceritakan. Suatu saat, setelah puncaknya beliau bermunajat kepada Allah, qiyamul lail sudah puluhan tahun, dia mendapatkan bisikan, “Wahai Abdul Qodir Jaelani, apa-apa yang haram, bagi kamu sudah menjadi halal.” Syaikh Abdul Qodir Jaelani serta merta menolak, “Tidak, kamu ini sesat. Kamu ini syaitan!” “Mengapa kamu mengatakan saya sesat?” “Sesungguhnya, Allah tidak pernah menyesatkan hambanya!”
“Karenanya, kita harus punya ilmu untuk itu. Agar bisa membedakan aqidah yang benar dan tidak,”jelasnya. Dengan begitu,  kita diminta untuk terus belajar, karena syarat iman itu salah satunya dengan ilmu.
Hanya masalahnya, di negeri kita ini tidak ada standarisasi ulama. Di malaysia berbeda. Untuk menjadi pengajar, syaratnya harus ada lisensi. Harus dites, bagaimana aqidahnya, bagaimana keilmuannya. Di negeri kita tidak. “Tiba-tiba ada orang yang tidak pernah muncul. Tahu-tahu muncul, rambutnya gondrong, ga tau adus, moro-moro dadi kyai. Lha kene sing mondok puluhan tahun, moro-moro kalah karo wong gak jelas iku,” katanya sambil tertawa.
Masalah kedua, tidak ada lembaga sensor khusus untuk buku-buku. Suatu saat, suami Fakhirotul Maulidah ini pernah mendapatkan buku yang menurutnya punya judul bagus, yaitu “Berdoalah dengan Asmaul Husna” “Tapi begitu saya buka subhanallah, isinya santet tok,” ceritanya. Dalam buku itu, kita diminta berdzikir “Ya mumit-yamumit” sampai 6000 kali. Dengan begitu, saingan dagang kita akan mati. “Parahnya, di buku ini tidak ada tulisan siapa pengarangnya,” kata bapak 5 anak ini. Pengerusakan aqidah masyarakat, menurutnya, salah satunya lewat buku-buku seperti itu, dan pemerintah tidak bisa memberendel ini. Di negara lain, seperti Malaysia buku-buku seperti ini dilarang. “Ada yang jualan di malaysia buku-buku seperti ini. Yang jualan orang Indonesia,” katanya diiringi tertawa lebar.
Sebaiknya, menurutnya, masing-masing organisasi punya alat tes sendiri sehingga da’i-da’i yang disebar ke masyarakat itu punya standar. “Dulu, jaman bapak saya, sekitar tahun 70an, tes masuk menjadi karyawan depag itu membaca kitab kuning. Sehingga orang-orang yang masuk ke depag, benar-benar orang yang tahu agama. Sekarang? Tidak,” katanya.
Jika ada yang bilang penyebaran buku tanpa ada sensor itu menambah wawasan? Menurutnya, itu berlaku bagi orang tertentu yang sudah mempunyai dasar aqidah yang kuat. Namun, jika tidak, masyarakat tentu akan sesat. Ini juga merupakan tanggung jawab para da’i dan ulama.
Mempunyai aqidah yang selamat, tentu saja akan memberikan keistimewaan untuk kita sendiri. Allah akan menjamiin kebahagiaan baik di dunia ataupun di akhirat kelak. Kebahagiaan tidak selalu berhubungan dengan harta. “Banyak orang dengan harta melimpah, namun hidupnya resah.” Katanya.
Selain itu, mempunyai aqidah yang benar, secara otomatis akan membuat kita menjadi percaya diri. Manusia akan merasa, bahwa yang Mahakuat, menjadi pelindung kita apapun yang terjadi. “Secara psikologis, kita tidak akan mudah putus asa, karena ada Dzat yang Mahahebat yang dekat dengan kita,” katanya mantap. Sebuah hadist Nabi saw. Mengatakan bahwa barangsiapa yang beramal sholeh, laki-laki maupun perempuan, maka Allah akan menjamin kehidupan yang baik.

Pengaruh Mempunyai Aqidah yang Kuat
Mempunyai aqidah yang kuat pasti berpengaruh pada cara pandangnya tentang hidup. Orang yang mempunyai aqidah yang kuat akan berorientasi pada ketuhanan, apapun yang akan dilakukannya. Orientasinya, hanya untuk mencapai ridho Allah semata, karena di dalam hatinya sudah tertanam bahwa sesuatu yang bisa memberikan keberkahan, mengatur segala sesuatu, memberikan solusi hidup adalah untuk mencapai ridho Allah semata, karena di dalam hatinya sudah tertanam bahwa sesuatu yang bisa memberikan keberkahan, mengatur segala sesuatu, memberikan solusi hidup adalah Allah semata. “Orang semacam ini adalah orang yang tahan banting, dan tahan ujian.”
Karenanya, ada beberapa ciri-ciri orang yang mempunyai aqidah yang selamat, antara lain,
Semangat beribadah yang tinggi hanya karena Allah, misalnya sholat lima waktu berjamaah di masjid bagi laki-laki. Karena Rasulullah mengatakan, “Jika kamu melihat laki-laki yang pulang dari masjid, saksikan, mereka ini beriman.” Jika aqidah tidak selamat, ibadahnya tidak karena Allah, hanya karena manusia atau kepentingan duniawi sesaat.
Orang yang punya aqidah yang kuat, pasti dermawan, karena ia menyadari apa saja yang ada di sisi Allah akan kekal. Semua yang diinfaqkan di jalan Allah, tidak akan pernah sia-sia.
Haus dalam tugas-tugas berdakwah untuk umat. Jika tidak ada tugas dari agama, seolah risau. Ada orang munafik, jika ada tugas agama, pasti merasa malas. Ada sahabat yang masih sangat muda ingin diperbolehkan ikut berperang. Ia berusaha menjinjit, agar terlihat besar agar diterima Rasul dalam perang.
Istiqomah dalam beramal. Punya amalan andalan. Sebaik-baik amalan adalah yang diistiqomahkan, walaupun hanya sedikit.
Semangat ukhuwah yang tinggi. Dengan aqidah yang kuat, niscaya sesama Islam tidak saling menjelekkan, juga saling menutup aib seseorang.
Seorang yang punya aqidah kuat, niscaya akan menjalankan amanah dengan baik. Sebuah hadist mengatakan, “Tidak ada agama untuk orang yang tidak punya amanah.”
Menurutnya, menjadikan aqidah yang benar, merupakan kewajiban masing-masing insan. “Ini kewajiban kita terhadap Allah, Tuhan kita. Ini tidak main-main,” tegasnya. Menjadi seorang penyampai kebaikan atau da’i, menurutnya harus punya aqidah yang selamat. Selamat dari kemurkaan Allah, selamat dari apa yang dibenci Allah, dan sebagainya. “Yang jelas, dengan aqidah yang selamat, akan membuat kita bahagia. Tidak hanya dunia namun juga akhirat,” pesannya. (wir)

sumber : Majalah Al Falah Malang Edisi Januari 2014


Komentar Anda

Artikel Lainnya