Slide 1
Artikel

DAKWAH ITU MUDAH DAN SEDERHANA

Senin, 4 Desember 2017    

Seorang teman berkata bahwa ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk
berdakwah, karena dia bukan seorang yang faqih dan bukan seorang yang tahu
banyak tentang metode dakwah. Adapun hadits-hadits Rasul yang berkaitan
dengan dakwah yang telah dibacanya merupakan sebuah barakah. Ia tidak tahu
bahwa barakah harus berbuah, dan buah dari barakah adalah produktivitas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah."

Jadi, jika kita tidak tersenyum pada wajah saudara kita, maka kita tidak
mendapatkan pahala sedekah itu. Jika setiap muslim mau memberi senyum tatkala
bertemu dengan saudaranya sesama muslim, kita akan menjumpai sebuah masyarakat
muslim yang berwajah cerah dan saling mencintai. Inilah barakah dari sebuah
senyuman yang tulus. Allah pernah menegur Rasulullah tatkala beliau
bermuka masam saat ditemui oleh Ibnu Maktum ra.

Allah berfirman,
"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang
buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya
(dari dosa)." ('Abasa:1-3)


Dari contoh ini kita akan mengetahui bahwa setiap yang datang dari Rasulullah ﷺ
adalah metode dakwah dan manhaj tarbiyah.
Marilah kita mengambil salah satu contoh dari hadits-hadits berikut yang
mengajarkan tentang sarana dan metode dakwah yang mudah dipelajari dan
diterapkan oleh para da'i. Kita akan melihat bahwa pelajaran-pelajaran itu sangat
gamblang dan akan menyadari bahwa daya tangkap kitalah yang memang belum
sampai.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,
"Hak seorang muslim terhadap muslim yang lain ada enam: jika bertemu maka berilah
salam, jika tidak kelihatan maka cari tahulah, jika sakit maka jenguklah, jika mengundang
maka penuhilah, jika bersin dan mengucapkan
hamdalah maka jawablah (dengan
mengucapkan
'yarhamukallah', dan jika meninggal dunia maka hantarkanlah (ke
pemakaman)."


Pertama, jika bertemu maka salamilah.
Mengucapkan salam adalah langkah pertama, akan semakin mantap jika diikuti
dengan berjabat tangan. Ucapan salam harus disertai dengan perasaan cinta, senang,
dan wajah yang berseri agar fungsi ucapan salam itu terwujud. Setelah itu saling
memperkenalkan nama, pekerjaan, dan tempat tinggal. Dengan demikian kita telah
membangun pondasi interaksi.

Kedua, jika tidak terlihat maka cari tahulah.
Watak sebuah perkenalan adalah jika seseorang yang telah kita kenal itu tidak
kita lihat dalam waktu tertentu, maka kita harus mencari kabar tentang keadaannya
atau menghubunginya.

Ketiga, jika sakit maka jenguklah.
Sunnatullah akan berlaku pada setiap orang, maka suatu saat ia akan merasa gembira,
sedih, atau sakit; dan setiap kondisi harus disikapi dengan sikap yang islami. Jika
kita mendengar seorang teman sakit, kita harus cepat-cepat menjenguknya,
memberikan kesejukan, dan mendoakan untuk kesembuhannya; akan sangat baik
lagi jika kita membawa hadiah yang sesuai.

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hadiah itu akan menjadikan
kalian saling mencintai."
(HR. Malik dalam Al-Muwatha')

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ﷺ bersabda,
"Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya sesama muslim
karena Allah, maka malaikat akan berseru kepadanya, 'Kamu dalam keadaan baik dan
baik pula tempat tujuanmu, kamu pun akan ditempatkan di surga.'"
(HR. Muslim)

Di tempat teman itu, kitapun dapat berkenalan dengan teman temannya.
Dengan demikian kita akan semakin banyak mempunyai kenalan.
Jangan sampai kunjungan itu kita gunakan untuk membaca koran, majalah, atau
berbicara yang tidak ada gunanya, agar tujuan kunjungan tersebut dapat terwujud.
Jika kita masuk rumahnya, hendaklah kita duduk di mana dipersilakan.
Diriwayatkan dalam sebuah atsar,
"Barangsiapa masuk rumah salah seorang di antara kamu maka duduklah di tempat
tersebut, karena kaum itu lebih mengetahui aurat rumah mereka."
(HR. Thabrani)

Keempat, jika ia mengundangmu maka hadirilah.
Setelah melewati tahapan-tahapan di atas maka hubungan kita akan
semakin erat. Suatu saat teman kita akan menghadapi keadaan-keadaan penting,
seperti sukses dalam tugas, pernikahan, atau yang lainnya, lalu ia mengundang kita
untuk menghadiri acara-acara tersebut. Kita harus memenuhi undangan tersebut
karena ini merupakan kesempatan berharga yang tersedia tanpa harus kita
rencanakan sebelumnya. Begitu juga sebaliknya, kita pun harus mengundangnya
dalam acara-acara penting yang kita adakan.

Kelima, jika ia bersin dan mengucap ‘hamdalah’ maka jawablah.
Duduk bersebelahan dengan orang yang belum dikenal di suatu tempat, baik di perjalanan,
pesta, maupun tatkala menjenguk orang sakit, lalu orang yang duduk
di sebelah kita bersin maka hendaklah kita menoleh kepadanya dengan
wajah berseri seraya mengucapkan, "yarhamukallah (mudah-mudahan Allah
memberi rahmat kepada Anda)." Tentunya hal ini akan membuat dirinya
merasakan sesuatu yang baru dan setelah itu kita dapat bercakap-cakap dengannya.

Keenam, jika ia meninggal dunia maka ke tempat pemakamannya antarkanlah.
Apa yang dapat ia lakukan setelah meninggal dunia dan dikubur? Pada hakikatnya,
mengantar orang lain yang meninggal ke tempat pemakaman adalah
mengantar dirinya sendiri, yang ia akan dapat mengambil nasihat, pelajaran,
dan merenungkannya. Ini sebuah sunnah Rasulullah ﷺ yang menggambarkan persatuan
dan kesatuan kaum muslimin. Jika sebelumnya kita dapat mengenal pribadi orang
yang telah meninggal dunia, maka sekarang kita dapat menggunakan kesempatan
untuk berkenalan dengan keluarganya dan orang-orang yang berta'ziah ke rumahnya.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Barangsiapa menghadiri jenazah hingga menshalatkannya, maka baginya pahala
satu qirath. Barangsiapa menyaksikan hingga di makamkan, maka baginya dua
qirath." Seorang sahabat bertanya, "Apakah dua qirath itu, wahai Rasulullah?"
Rasulullah menjawab, "Seperti dua gunung yang besar."
(Muttafaqun 'Alaih)


Komentar Anda

Artikel Lainnya