Slide 1
Artikel

Gemericik : Bertahan dalam Kepasrahan

Senin, 16 Februari 2015    

Gemericik : Bertahan dalam Kepasrahan

Kerasnya kehidupan terkadang membuat seseorang pasrah tak berdaya. Apalagi dengan kondisi yang serba kekurangan. Seperti yang dialami Slamet warga asli Singosari. Saudara pun tak ada, usia sudah semakin renta. Sakit pun sering mendera. Bagi Slamet, tidak ada pilihan selain bertahan dan pasrah.

Sejak istrinya “dipanggil” yang Kuasa, hidupnya jadi sebatang kara, tanpa siapa-siapa. Kondisinya yang sakit dan usia yang sudah lanjut menjadikannya harus tetap istirahat di rumah. Yang lebih memprihatinkan lagi, rumah yang Ia tinggali ternyata bekas rumahnya yang sudah menjadi milik orang lain dan Ia meminta izin untuk menempatinya.

Rumah seluas 3x7 m itu terlihat tak layak lagi untuk dihuni. Atapnya banyak sekali yang berlubang membuat air hujan langsung jatuh ke dalam rumah. Dua kamar yang ada tak lagi bisa difungsikan karena memang sudah tidak ada lagi tempat tidur dan barang-barang yang lain. Di situlah Slamet menghabiskan waktu-waktunya seorang diri. “Saya setiap hari ya di atas sofa ini. Kalau hujan ya kayak air terjun, semua air masuk sampai banjir,” ceritanya. Sepeninggal istrinya pada 2013, Slamet hidup sebatang kara tanpa ada sanak saudara. “Saya anak tunggal dan Bapak Ibu sudah meninggal semua. Keluarga istri juga sudah tak menganggap saya saudara lagi,” ungkapnya sendu.

Slamet menikahi istrinya, Musripah sejak 1970. Mereka sempat bekerja bersama di Banyuwangi sebagai Pembantu Rumah Tangga selama kurang lebih 20 tahun. “Saya bagian kebun dan istri saya bagian dapur dan pekerjaan rumah,” tuturnya. Namun karena rumah tempat ia dan istrinya bekerja dijual, Slamet pun kembali pulang ke Malang. Suatu saat istrinya sakit keras sehingga membutuhkan biaya untuk berobat. “Saya sampai hutang ke mana-mana untuk menutupi biaya rumah sakit,” tuturnya. Hingga akhirnya Allah berkehendak untuk mengambilnya terlebih dulu.

Setelah kematian istrinya, Slamet mulai sakit-sakitan. Karena tak ada biaya, dengan sangat terpaksa Ia menjual rumah milik istrinya untuk biaya berobat. “Selain untuk berobat juga buat melunasi hutang-hutang saya dulu,” terangnya. Kini Slamet hanya bisa mengharap kemurahan hati sang pemilik rumah untuk bisa mengizinkannya tinggal di sana. “Mau ke mana lagi, saya sudah tidak punya siapa-siapa. Keluarga istri juga sudah tidak mau menerima,” ucapnya. “Saya cuma bisa pasrah. Berharap Allah masih terus membantu saya,” imbuhnya.

Tahun 2012, Slamet dipertemukan Allah dengan YDSF Malang melalui Kantor Pelayanan Singosari. YDSF Malang pun memberikan biaya hidup bulanan sebesar tiga ratus ribu rupiah. “Alhamdulillah, YDSF Malang masih mau membantu. Sampai sekarang belum ada yang memberikan bantuan selain YDSF Malang,” katanya. “Saya dengar juga rumahnya mau dipakai. Kalau disuruh pindah ya saya nggak tau lagi mau ke mana, saya serahkan sama Allah saja,” ujarnya pasrah. (syf)

Sumber : Majalah Al Falah Malang Edisi Februari 2015

Download Majalah Al Falah Malang


Komentar Anda

Artikel Lainnya