Slide 1
Artikel

MENJADI PRIBADI DAI 4 (seri)

Selasa, 14 November 2017    

Dakwah Fardiyah

Setelah Abu Thalib meninggal dunia, penderitaan Rasulullah semakin berat,
sehingga beliau pergi ke Thaif untuk mencari dukungan dari suku Tsaqif, dengan
harapan agar mereka mau menerima ajaran Islam.
Ketika sampai di Thaif, beliau menjumpai tokoh-tokoh dari suku Tsaqif, yang
mereka itu tiga bersaudara: Abdu Yalail bin Amr bin Umair, Mas'ud, dan Hubaib.
Beliau mengajak mereka untuk mengikuti ajaran Islam dan menjelaskan maksud
kedatangannya. Akan tetapi, mereka tidak mau menerima kedatangan beliau, bahkan
memanggil kaumnya dan menyuruh mereka agar mengusir dan mengolok-olok
Rasulullah saw. Akhirnya Rasulullah berlindung di kebun milik Utbah bin Rabi'ah dan
Syaibah bin Rabi'ah, yang waktu itu keduanya berada di kebun tersebut dan mengetahui
apa yang sedang dialami oleh Rasulullah saw.

Rasulullah duduk di bawah pohon kurma. Sementara itu hati kedua pemilik kebun
itu tergerak untuk menolong, lalu menyuruh pembantunya yang biasa dipanggil
Adas, "Ambillah setangkai anggur dan letakkan di nampan ini, lalu berikan kepada orang itu."
Adas pun melaksanakan perintah tersebut dan datang ke hadapan
Rasulullah seraya berkata, "Silakan dimakan."
Rasul menerima anggur tersebut, lalu memetiknya,
setelah itu membaca "bismillahirrahmanirrahim" dan memakannya.
Mendengar bacaan itu, Adas terperanjat dan memandang Rasulullah dengan heran.
"Demi Allah, ucapan ini bukanlah ucapan penduduk negeri ini."
Rasulullah berkata, "Wahai Adas, engkau berasal dari mana dan apa agamamu?"
Adas menjawab, "Saya beragama Nasrani, saya dari negeri Ninawa."
Rasulullah bertanya, "Apakah dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?"
Adas berkata, "Apa yang anda ketahui tentang Yunus bin Matta?"
RasuluUah menjawab, "Dia adalah nabi dan saya juga seorang nabi."
Mendengar itu, Adas langsung menubruk Nabi, menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki beliau.
Kedua pemilik kebun melihat kejadian tersebut, lalu seorang di antara mereka
berkata kepada yang satunya, "Pembantu kita sudah diracuni oleh laki-laki itu."
Tatkala Adas datang menghadap, keduanya berkata, "Celakalah kamu wahai Adas,
apa yang menyebabkanmu menciumi kepala, kedua tangan, dan kedua kaki orang itu?"
Adas berkata, "Tuanku, tidak ada yang lebih baik dari ini. Dia telah memberi tahu
kepadaku perkara yang hanya diketahui oleh seorang Nabi." Mereka berkata,
"Celakalah kamu wahai Adas, jangan sampai ucapannya menjadikan kamu
berpaling dari agamamu, karena agamamu lebih baik daripada agamanya."

Saudaraku,
Kita sudah membaca kisah di atas. Sekarang mari kita petik pelajaran yang ada di
dalamnya. Mari kita lihat bagaimana cara Rasulullah memikat hati Adas, lalu
membimbingnya perlahan-lahan, hingga mahu mengikrarkan keislamannya.
Tatkala Adas datang kepada Rasulullah dengan senampan anggur lalu berkata,
"Makanlah," Rasulullah memulai langkah pertamanya: beliau mengambil anggur itu dan
membaca "bismillahirrahmanirrahim", lalu memakannya. Seandainya Rasulullah
tidak mengucapkan "bismillahirrahmanirrahim", tentu Adas tidak akan berkomentar apa pun.
Di sinilah terlihat pentingnya menonjolkan karakteristik Islam dengan
melaksanakan sunnah Rasulullah, yang juga merupakan proklamasi aqidah islamiah
di negara-negara nonmuslim, karena dengan begitu kaum muslimin dapat mengenal
satu sama lain.

Langkah kedua adalah tatkala Adas memandang beliau dan berkata, "Ucapan ini
bukanlah ucapan penduduk negeri ini." Rasulullah lalu berkata, "Wahai Adas kamu
berasal dari negeri mana dan apa agamamu?"
Rasulullah memanggilnya dengan menyebut nama Adas. Panggilan dengan
menyebut nama secara langsung itu mempunyai arti yang amat besar untuk
mengakrabkan sebuah persahabatan. Kemudian beliau menanyakan tentang negeri dan
agamanya. Ini merupakan sebuah rangkaian pembicaraan yang berurutan secara rapi.
Adas menjawab, "Saya beragama Nasrani, dari negeri Ninawai." Lalu Rasul bertanya,
"Apakah kamu dari negerinya Yunus bin Matta, hamba Allah yang shalih itu?"
Kita melihat bahawa Rasulullah memberikan gelar kepada Yunus as. dengan
menyebut 'hamba yang shalih'. Inilah yang menjadikan hati Adas semakin
tersentuh dan tertarik. la juga mengetahui bahawa Rasulullah mengetahui letak
negeri Ninawa, sebuah negeri yang terletak di sebelah sungai Furat, Iraq. Ini semua
menjadikan Adas semakin tertarik.
Adas bertanya, "Apa yang Anda ketahui tentang Yunus bin Matta?" Rasulullah
menjawab, "Dia adalah saudaraku. Dia seorang nabi dan aku juga seorang nabi."
Di sini terdapat sentuhan yang amat lembut. Ungkapan Rasulullah,
"saudaraku," semakin membuat Adas tertarik dan percaya. Banyak kita jumpai orang
yang bertanya tentang seseorang kemudian ia jawab, "la adalah saudaraku."
Jawaban itu akan menambah keakraban dan rasa percaya. Dari nada bicara Rasulullah
itu terlihat sifat tawadhu' beliau, yaitu beliau menyebut nama Yunus as. lebih dahulu
sebelum menyebut nama beliau sendiri. Di sini terdapat pelajaran yang amat penting
dan berharga bagi seorang da'i.

Banyak di antara kita, tatkala membicarakan seseorang yang mempunyai
"kelebihan" mengatakan, "Dia sekolahnya bareng dengan saya" atau "Dia dulu
satu fakultas dengan saya." Padahal yang lebih baik adalah,
"Saya dulu bersamanya waktu di sekolah menengah" atau "Saya dulu satu fakultas dengannya."

Saudaraku,
Inilah yang terjadi antara Rasulullah dengan Adas. Sebuah kisah yang sederhana
dan mudah dicerna. Jadi, bagi da'i yang ingin memetik pelajaran dari kisah ini tidak akan
merasa kesulitan.


Komentar Anda

Artikel Lainnya