Slide 1
Artikel

Parenting : Anak Berperilaku Mencuri

Senin, 23 Februari 2015    

Ibu Ayu baru saja menegur Anita, anaknya, karena menemukan sekotak krayon baru di tasnya. Anita mengatakan bahwa krayon itu dipinjamnya dari sekolah. Ibu Ayu terus menginterogasi Anita karena takut ia mengambil krayon itu tanpa ijin. Akhir-akhir ini, Ibu Ayu khawatir karena semakin sering menemukan benda-benda ‘baru’ di tas Anita setelah putrinya itu pulang sekolah.

Kalau hari ini krayon baru, kemarin Ibu Ayu menemukan stiker, penghapus, dan peruncing pensil. Ibu Ayu merasa semakin lama perilaku anaknya menunjukkan perilaku mencuri, karena barang-barang yang dibawa pulang olehnya tersebut bukan barang-barang milik Anita yang saat ini baru duduk di TK itu.

Ayah dan Bunda, kira-kira apa ya yang harus dilakukan Ibu Ayu? Betulkah anak-anak sejak di TK pun sudah dapat melakukan perbuatan mencuri? Kalau ternyata Anita betul mengambil barang-barang tersebut tanpa ijin, apa yang seharusnya ibu Ayu lakukan? Nah, artikel kali ini membahas mengenai perilaku ‘mencuri’ di kalangan anak-anak.
 
Mengenalkan Konsep Kepemilikan

Henry A. Paul (2000) dalam bukunya Is My Child OK? When Behavior is a Problem, When it’s not, and When to Seek Help menyatakan, anak-anak sebelum usia tiga tahun, masih belum dapat membedakan dirinya dengan orang lain. Anak-anak ini juga masih sulit membedakan barang miliknya dan milik orang lain.

Hal ini membuat perbuatan anak-anak usia batita (bawah tiga tahun) yang mengambil barang orang lain tanpa ijin, masih sulit disebut mencuri, sebab ia masih belum dapat membedakan benda yang jadi miliknya dan benda yang bukan miliknya. Saat anak-anak ini masuk masa prasekolah, barulah mereka belajar antara konsep ‘saya’ dan ‘bukan saya’ sehingga mulai belajar konsep barang milik, yang menandakan bahwa mereka mulai dapat paham bahwa mengambil barang yang bukan miliknya tanpa ijin adalah perbuatan mencuri.

Ini bisa dilihat dari pelajaran-pelajaran di Taman Kanak-kanak yang mengajak siswanya untuk mengenalkan dirinya, siapa nama mereka, dan siapa nama orangtua mereka. Ini bagian dari mengajarkan anak-anak mengenal diri mereka dan yang bukan mereka, sehingga mereka juga nantinya dapat mengenal barang miliknya dan barang yang bukan miliknya.

Setelah mengenal konsep ‘saya’, ‘milik saya’, ‘bukan saya’ dan ‘bukan milik saya’ barulah anak-anak dapat diajarkan bahwa sebelum mengambil barang yang bukan miliknya mereka, harus meminta ijin terlebih dahulu kepada pemilik barang. Ketika anak-anak paham bahwa mereka harus meminta ijin dulu sebelum mengambil barang yang bukan miliknya dan ia tetap mengambil tanpa ijin, perbuatan anak tersebut dapat dikatakan mencuri.
Bagi anak-anak, perbuatan mencuri bisa berarti banyak hal, paling sering muncul adalah bentuk tindakan mencari perhatian orangtua. Contohnya dari perbuatan Anita, Ibu Ayu perlu mencari tahu apakah Anita melakukan perbuatan mengambil barang tersebut karena belum paham konsep barang saya dan bukan barang saya atau karena mencari perhatian orangtuanya.

Jika perbuatan mengambil barang yang dilakukan Anita lebih untuk mencari perhatian, maka ini dapat menjadi tanda agar ibu Ayu lebih terlibat dalam pengasuhan Anita. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa anak-anak yang ‘mencuri’ saat mereka sudah di usia sekolah dasar pun, biasanya anak-anak memberinya sinyal bahwa mereka membutuhkan dan menginginkan perhatian.
Perhatian orangtua biasanya berkurang saat orangtua sibuk karena hal-hal lain, seperti memiliki anak lagi, sehingga sibuk mengasuh anak bayinya, atau orangtua mendapat pekerjaan baru sehingga lebih sibuk dengan tugas-tugas barunya, atau orangtua yang menderita sakit atau mengasuh anak lainnya yang sakit.

Dengan demikian, ketika ada anak yang menampilkan perilaku mencuri, perlu dilihat dulu kapan perilaku tersebut terjadi. Jika ternyata mereka mencuri karena salah satu penyebab di atas, berarti yang butuh dilakukan orangtua adalah untuk memberikan perhatian pada anaknya. Jika kebutuhan perhatian ini terpenuhi maka biasanya perilaku mengambil barang tanpa ijin tersebut akan menghilang pula.
Ayah dan bunda, meskipun tampaknya sangat jarang perilaku mencuri ini menjadi masalah serius semata-mata karena belum pahamnya anak akan konsep hak milik, orangtua tetap tidak boleh ‘menggampangkan’ masalah ini. Ketika orangtua menemukan bahwa anak mengambil barang yang bukan miliknya, seperti yang dialami oleh Ibu Ayu dalam contoh di atas, orangtua perlu mencari tahu sejak kapan anaknya menampilkan perilaku tersebut.
Selain itu orangtua juga perlu menyelidiki apakah terjadi suatu peristiwa yang di luar kebiasaan di lingkungan rumah maupun di sekolah anak tersebut, sehingga membuat anak perlu melakukan penyesuaian diri. Misalnya peristiwa di rumah: apakah orangtua baru pindah rumah, apakah terjadi peristiwa perceraian atau kematian anggota keluarga dekat.

Sedangkan peristiwa di lingkungan sekolah misalnya apakah ada tekanan dari teman-temannya yang menyebabkan ia melakukan perilaku tersebut, adakah tekanan dari pelajaran yang sulit diatasi anak atau peristiwa lainnya.

Perilaku mencuri itu bisa menjadi hal yang serius apabila berlangsung secara terus menerus dan disertai dengan fenomena lainnya seperti tindakan agresif terhadap orang lain, perusakan properti, penipuan serta pelanggaran hukum; bisa juga ditandai dengan hubungan interpersonal yang buruk serta di luar kontrol yang membuat perilaku tersebut mendapat perhatian dari guru hingga polisi, misalnya.

Perilaku-perilaku yang perlu diperhatikan ini juga terkait dengan kondisi keluarga mereka, sehingga perlu diketahui juga pengasuhan orangtuanya atau kondisi psikologis anak; apakah anak menderita depresi, mengalami kecemasan dan seterusnya. Dari situ akan diketahui kapan diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dengan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.{}

Sumber : Majalah Al Falah Malang Edisi Februari 2015

Download Majalah Al Falah Malang
 


Komentar Anda

Artikel Lainnya