Slide 1
Artikel

TIPS UNIK MEMULAI INTERAKSI (3)

Senin, 30 Oktober 2017    

Di setiap perjalanan, saya biasa membawa mushaf, qur’an, atau majalah.
Biasanya, tatkala kita membaca qur’an, orang yang duduk di sebelah akan
melirik dan ikut membaca. Di saat itulah kita dapat meminjamkan qur’an pada orang
tersebut. Setelah selesai membaca, ia akan mengembalikan qur’an itu dengan
mengucapkan terima kasih. Saat itulah kita dapat berkenalan dengan memulai
pembicaraan tentang topik yang dibahas dalam qur’an tersebut dan bagaimana
tanggapan kita tentang topik tersebut.
Jika memang tidak memungkinkan, sebuah perkenalan tidak harus diakhiri
dengan mengetahui nama masing-masing, tetapi yang perlu diperhatikan adalah
hendaknya pembicaraan yang berlangsung itu berkisar sekitar dakwah islamiah,
karena tugas kita adalah menyebarkan fikrah yang lslami. Mudah-mudahan kita bisa
bertemu dengannya pada kesempatan yang lain dan bisa berkenalan lebih jauh lagi.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Kadang-kadang duduk di sebelah saya seseorang yang belum saya kenal, dan
saya berpikir bagaimana cara memulai pembicaraan. Jika saya lihat orang itu berkulit
putih, saya bertanya kepadanya dengan pertanyaan yang kedengarannya bodoh,
"Apakah Saudara dari Sudan?" Lalu ia melihat kepada saya dengan pandangan
kehairanan dan seakan-akan ingin berkata, "Apakah Anda buta?" Akan tetapi saya
mendahului berkata, "Saudara jangan marah, karena saya pernah melihat orang Sudan
yang berkulit putih. Kalau begitu, Saudara ini dari mana?" Dengan begitu saya telah
membuka tirai kebisuan di antara kami, dan setelah itu kami dapat melanjutkan
pembicaraan. Jika orang itu berkulit coklat maka saya bertanya, "Apakah Saudara dari
Qubrus?" Begitulah seterusnya. Inilah cara yang kadang-kadang saya pakai untuk
membuka pembicaraan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Suatu ketika kami dalam perjalanan dari Iskandariah ke Asyuth ibukota Sha'id.
Perjalanan itu membutuhkan waktu yang lama, sehingga kami membawa banyak
makanan ringan. Waktu itu kereta api mogok di tengah jalan lebih dari dua jam.
Didorong oleh hadits,
"Barang-siapa mempunyai kelebihan bekal,
hendaklah memberikannya kepada orang yang tidak mempunyai bekal,"
(HR. Muslim)
maka salah seorang di antara kami berdiri dan membagi-bagikan makanan kepada para penumpang.
Dengan demikian kami sudah membuka pintu untuk saling mengenal,
dan kejadian itu meninggalkan kesan yang baik di hati mereka.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dulu, sebelum mengenal cara-cara islami dalam berdakwah, saya sering
menggunakan cara-cara hasil ijtihad saya sendiri untuk memulai perkenalan. Suatu
waktu saya pernah dengan sengaja menginjak kaki orang yang berdiri di sebelah
saya sewaktu naik trem. Orang itu lalu berteriak marah, "Apakah anda buta?" Saya
menjawab dengan tenang, "Jangan terburu marah, wahai saudaraku. Memang saya ini
seperti orang buta, karena penglihatan saya yang sudah melemah." Lalu orang
tersebut meminta maaf. Dengan demikian saya bisa mulai berkenalan.


Komentar Anda

Artikel Lainnya